Mengejar Suami

Bismillaah.

Memanfaatkan website ini yang kata suami bakal terus dia sponsori (alhamdulillaah!), saya ingin mendokumentasikan perjalanan kami selama menikah dengan harapan salah sekian dari isinya, suatu saat nanti, akan bisa membantu seseorang dalam kehidupannya di Jepang sini (terutama yang sudah berumah tangga). Kalau tidak ada, yah, akan saya jadikan kenangan untuk dibagikan kepada anak-cucu (aamiinn!), hehehe.

Bermula dari status suami saya sebagai pelajar di Negeri Sakura untuk 3 tahun mendatang, saya yang saat itu adalah seorang karyawati di Jakarta memutuskan untuk berhenti dan mengikuti suami tinggal di Jepang (sekalian jalan-jalan gratis, hahaha).

Prosesnya susah-susah gampang. Susah karena harus menyiapkan barang-barang kebutuhan pribadi dan suami dan mengirimkannya ke Jepang. Susah karena harus mengurus dokumen visa. Namun yang paling susah adalah harus berpisah dengan keluarga, terutama Mama, dan teman-teman yang selama ini sudah menerima saya dan mendukung perjuangan-perjuangan saya baik di kantor maupun di kehidupan sehari-hari. Meninggalkan mereka untuk waktu yang cukup panjang (setelah diskusi dengan suami, pulang ke Indonesia paling cepat adalah Lebaran 2018).

Jadi, dengan anggapan bahwa akan ada teman-teman lain yang menjalani nasib serupa dengan saya, saya akan mencoba menjelaskan proses-proses yang saya alami, agar buat kalian prosesnya jadi gampang!

Mengirim Barang ke Jepang

Pertanyaan utamanya tentu saja (1) apa saja yang harus dikirim, (2) dengan apa sebaiknya mengirim, dan (3) berapa kira-kira biayanya.

Apa saja yang harus dikirim?

Profil saya adalah wanita muslimah berhijab yang berasal dari Malang, Jawa Timur. Daftar di bawah ini agak berbeda dengan yang sesungguhnya saya bawa, dalam hal detail-detailnya. Ada kebanyakan dibawa, ada yang lupa dibawa. Jadi, saya revisi dulu baru saya daftar lagi di bawah ini.

  • Kerudung dan tetek-bengeknya
    Karena di Jepang jarang (bukannya tidak ada, tapi jarang) yang menjual barang-barang tersebut, jadi belum tentu saya bisa menemukan kerudung yang saya suka.
  • Mukena dan sajadah
    Dengan alasan yang sama dengan di atas. Kalau Al-Qur’an sih sudah banyak app ya.. Atau katanya bisa minta gratisan dari masjid-masjid Turki.
  • Bumbu masakan Indonesia yang saya suka
    Saya dengar memang ada beberapa restoran Indonesia di sini, namun untuk menyesuaikan cita rasa yang tidak selamanya pas dengan cita rasanya koki restoran dan untuk menghemat pengeluaran (alasan utama) di mana makan di luar adalah berkali-kali lipat dari makan di rumah, jadi suami saya secara khusus sudah pesan bubuk-bubuk yang biasanya menjadi bumbu dasar untuk memasak makanan Indonesia.
    Awalnya, saya tidak tahu bahwa suami saya pintar memasak, jadi saya bawakan bumbu-bumbu instan untuk sayur sop, sayur asam, gule, soto, dll. Saya bawakan yang bubuk sesuai permintaan dia, karena mungkin kalau bentuknya cair akan mudah rusak. Namun, ternyata dia bisa bikin soto sendiri dengan rempah-rempah bubuk tanpa bumbu instan…. jadi… bumbu sayur sop dan soto-nya masih nganggur deh.
    Secara khusus, rempah bubuk yang sebaiknya dibawa adalah: kecap, sambal terasi, terasi, saus sambal A*C, sambal bawang Bu R*di, kencur bubuk (katanya biar masakannya “segar”), lengkuas bubuk (katanya biar masakannya “earthy”),  dan kunyit bubuk (biar masakannya kuning, seperti ketika memasak soto). Eh, kok sebagian besar malah cairan. Tidak muncul di gambar adalah petis udang (maaf ini kebutuhan saya sebagai orang Jawa Timur), asam Jawa, daun salam. Yang lupa tidak saya bawa adalah daun serai, bawang merah, dan daun jeruk.
    Sejatinya bumbu-bumbu masak ini bisa ditemukan di Toko Indonesia yang letaknya di Okubo, Tokyo, hanya saja harganya tentu tidak sama dengan di Indonesia.. Jadi mumpung berangkat dari Indonesia dan bumbu-bumbu ini tidak terlalu mahal (dibandingkan dengan harga di Jepang), jadi mengapa tidak dibawa saja? (Disclaimer: hati-hati overweight.)
  • Makanan Indonesia yang saya suka
    Kebetulan saya tidak membawa makanan Indonesia secara khusus untuk dimakan, karena memang tidak ada yang favorit banget sampai tidak bisa lepas. Namun, saya membawa teh merah (teh yang biasa itu), kopi Indonesia (Mandailing dan Luwak Toraja), dan keripik udang. Kopi dan keripik niatnya akan saya hadiahkan kepada orang, sedangkan teh akan kami konsumsi sendiri. Contoh lain adalah tempe (di Toko Indonesia jual kok), mie instan Indonesia (alhamdulillah ada di toko internasional), dan sosis halal (ada yang kalengan dari B*rnardi, tapi di toko halal banyak juga ternyata).

Apa yang sebaiknya tidak dibawa?

Saya sendiri juga termasuk orang-orang yang terlanjur membawa barang-barang yang ternyata tidak dibutuhkan di Jepang. Beberapa barang yang sebaiknya tidak dibawa ke Jepang:

  • Baju hangat
    Berdasarkan pengalaman, sehangat-hangatnya baju hangat yang dibeli di Indonesia, masih belum bisa melindungi di waktu musim dingin yang paling jahat. Sayang sekali jika ruang bagasi/paket dipakai oleh baju hangat bulky yang pada akhirnya kurang bermanfaat. Lumayan sekalian belanja. Kabarnya Un*qlo di sini harganya lebih murah daripada di Indonesia. Atau, jika budgetnya tipis seperti saya, bisa lari ke BookOff atau HardOff yang menawarkan coat bekas berkualitas top dengan harga terjangkau.
  • Pelembab (secara khusus, dan kosmetik secara umum)
    Belum tahu penjelasannya, tapi kurang ampuh untuk melembabkan kulit di masa-masa dingin yang kering. Mungkin kandungan moisturizer untuk krim dari Indonesia memang tidak terlalu banyak karena pada dasarnya Indonesia itu lembab.
  • Hanger… dan kebutuhan rumah lainnya
    Sampai sekarang saya masih suka digoda suami karena membawa hanger sendiri dari Indonesia padahal di rumah di Jepang ada bejibun hanger yang bahkan harus dibagi-bagi (warisan dari banyak orang). Jadi, jangan tergoda untuk membawa rice cooker, panci, pisau, selimut, dan lain-lain, karena di Jepang juga jual.
Dengan apa sebaiknya mengirim?

Jika waktu yang tersedia dari mengirim barang hingga menggunakan barang ada cukup banyak (baca: 1-2 bulan), saya rekomendasikan mengirim menggunakan Pos Indonesia lewat laut.

Memang, pihak Pos Indonesia-nya sendiri waktu saya bilang mau mengirim lewat laut ragu dan meminta saya berpikir ulang, “Gag tahu sampainya kapan loh Mbak, kan nunggu kargonya banyak dulu baru dikirim.”

“Ntar kalau gag sampe gimana?”

Jadi karena saya belum tahu kapan sampainya, saya bungkus barang-barang yang sekiranya hilang juga tidak apa-apa: baju-baju kaus yang bisa saya beli di Jepang, hanger (wkwk), dan buku-buku yang kalau hilang bisa saya cari PDF-nya di Internet (wkwkwk).

Seminggu, dua minggu saya tunggu tidak datang ke Jepang. Saya pun mulai mencoba mengikhlaskan isinya. Namun, kurang dari sebulan, paket tersebut datang, diantarkan oleh tukang pos setempat. Ternyata sampai kok, sodara-sodara, dan it didn’t take forever. Dengan harga yang jauh lebih murah, saya benar-benar ingin merekomendasikan Pos Indonesia lewat laut.

Untuk bahan-bahan makanan dan barang-barang yang cukup penting seperti elektronik, gunakan bagasi sebaik mungkin. Lagipula, penerbangan Indonesia-Jepang menggunakan Garuda Indonesia yang saya pakai memberikan jatah bagasi yang cukup banyak: 46 kg. Jadi, alhamdulillaah cukup semua, dengan catatan harus mampu merelakan barang yang tidak perlu namun ada attachment khusus secara emosional misalnya selimut favorit maupun buku-buku yang sepertinya akan ada di perpustakaan Jepang.

Berapa biaya mengirim paket ke Jepang?

Saya mengirim paket 20an kg dari Jakarta ke Tokyo dengan Pos Indonesia lewat laut dengan biaya kurang dari 1 juta rupiah.

Good deal kan?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s